Dalam beberapa tahun terakhir, ransomware menjadi salah satu ancaman siber terbesar bagi organisasi maupun individu. Serangan ini bekerja dengan mengenkripsi semua data korban dan meminta tebusan agar data bisa dikembalikan. Banyak organisasi akhirnya lumpuh total karena tidak memiliki sistem backup yang baik. Hal ini menunjukkan bahwa backup bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan kritis dalam menjaga keberlangsungan operasional.
Serangan ransomware biasanya memanfaatkan celah keamanan seperti software yang tidak diperbarui, email phishing, atau akses tidak sah melalui jaringan. Setelah masuk, malware akan menyebar ke seluruh perangkat dalam jaringan, mengenkripsi file penting, dan menampilkan pesan tebusan. Kerugian yang ditimbulkan sering kali sudah tidak terhitung, mulai dari downtime, kehilangan data sensitif, hingga kerusakan reputasi organisasi.
Melakukan backup secara rutin merupakan bentuk pertahanan terakhir ketika semua lapisan keamanan lainnya gagal. Dengan memiliki salinan data di lokasi yang aman, organisasi tidak perlu membayar tebusan kepada penyerang. Namun, backup harus dilakukan dengan metode yang benar, seperti memiliki beberapa salinan, memisahkan backup secara fisik dari jaringan utama, dan melakukan pengujian berkala untuk memastikan backup benar-benar berfungsi.
Sayangnya, banyak organisasi masih menganggap backup sebagai tugas sampingan yang hanya dilakukan sesekali. Padahal, data adalah aset paling berharga di era digital. Tanpa backup yang baik, proses pemulihan bisa memakan waktu berhari-hari hingga berminggu-minggu, bahkan bisa berujung pada hilangnya data penting secara permanen. Inilah yang membuat kebijakan backup harus menjadi prioritas utama.
Untuk itu, CSIRT selalu mendorong seluruh unit kerja dan pengguna agar memiliki kebiasaan melakukan backup mandiri, baik melalui cloud storage kampus, hard drive eksternal, atau penyimpanan lain yang terpercaya. Ketika serangan siber dapat menyerang kapan saja, backup adalah perlindungan yang paling sederhana namun paling efektif. Ingat, kehilangan data karena ransomware adalah musibah—tetapi tidak melakukan backup adalah kelalaian yang bisa dicegah.